{"id":18,"date":"2026-05-08T12:37:08","date_gmt":"2026-05-08T12:37:08","guid":{"rendered":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/?p=18"},"modified":"2026-05-13T13:34:59","modified_gmt":"2026-05-13T13:34:59","slug":"intensitas-penggunaan-gadget-dinilai-pengaruhi-kedekatan-anak-dan-orang-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/?p=18","title":{"rendered":"Teknologi dan Interaksi: Jarak Emosional dalam Keluarga Modern"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i.pinimg.com\/736x\/fc\/f2\/f7\/fcf2f72fb94d67f7d793376a92498f39.jpg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak tidak selalu membutuhkan rumah yang mewah, tetapi rumah yang membuatnya merasa didengar.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat tersebut semakin relevan di tengah perubahan pola kehidupan keluarga pada era digital saat ini. Kesibukan aktivitas dan tingginya penggunaan gadget membuat banyak anak dan orang tua semakin jarang memiliki waktu untuk benar-benar berbicara dan saling memahami satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak-anak dan remaja kini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar, mulai dari menonton video, bermain <em>game<\/em>, hingga mengakses media sosial. Di sisi lain, orang tua juga tidak lepas dari penggunaan perangkat digital dalam pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut perlahan membuat interaksi langsung di lingkungan keluarga semakin berkurang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan sebanyak 90,76 persen anak dan remaja Indonesia menggunakan internet untuk mencari hiburan. Selain itu, 67,65 persen lainnya aktif menggunakan media sosial setiap hari. Tingginya intensitas penggunaan internet tersebut dinilai memengaruhi pola komunikasi dalam keluarga, terutama hubungan emosional antara orang tua dan anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kedekatan keluarga, tetapi juga kondisi mental anak dan remaja. Penelitian Halen dan rekan-rekannya (2024) menjelaskan bahwa dukungan emosional, komunikasi yang sehat, serta kehadiran orang tua memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental anak di era digital.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang suportif cenderung memiliki kemampuan sosial dan emosional yang lebih baik. Sebaliknya, kurangnya komunikasi dan perhatian dari keluarga dapat memicu munculnya rasa kesepian, kecemasan, hingga stres pada anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian Cepi dan tim peneliti (2023) juga menjelaskan keluarga merupakan lingkungan pertama dalam pembentukan karakter anak. Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun rasa aman, nyaman, dan kestabilan emosional sejak usia dini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, kondisi di lapangan menunjukkan tidak sedikit anak yang merasa kesulitan membangun komunikasi terbuka dengan orang tua. Banyak anak memilih memendam masalah sendiri karena merasa tidak memiliki ruang yang nyaman untuk bercerita di rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2022 mencatat terdapat 479 kasus terkait pengasuhan bermasalah dan konflik keluarga yang melibatkan anak. Permasalahan tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kondisi psikologis dan perkembangan sosial anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, laporan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2024 mengungkap satu dari tiga anak dan remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Dalam laporan tersebut juga disebutkan sebanyak 64,7 persen anak dan remaja mengalami gangguan dalam hubungan keluarga, termasuk minimnya waktu berkualitas bersama orang tua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penggunaan gadget secara berlebihan juga dinilai memperparah kondisi tersebut. Penelitian Agustiarini dan rekan-rekannya (2022) menyebut kecanduan gadget dapat memengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak. Anak yang terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar cenderung mengalami penurunan kemampuan komunikasi sosial dan menjadi lebih tertutup terhadap lingkungan sekitar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, paparan media sosial secara terus-menerus dinilai dapat membentuk perilaku impulsif, mudah marah, hingga menurunnya empati sosial pada remaja. Tidak sedikit anak yang akhirnya merasa lebih nyaman berinteraksi di dunia digital dibandingkan berbicara langsung dengan keluarga mereka sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat, kehadiran orang tua secara emosional dinilai menjadi hal yang semakin penting. Sebab, bagi banyak anak, didengarkan dan dipahami sering kali menjadi bentuk perhatian sederhana yang paling mereka butuhkan di rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak tidak selalu membutuhkan rumah yang mewah, tetapi rumah yang membuatnya merasa didengar. Kalimat tersebut semakin relevan di tengah perubahan pola kehidupan keluarga pada era digital saat ini. Kesibukan aktivitas dan tingginya penggunaan gadget membuat banyak anak dan orang tua semakin jarang memiliki waktu untuk benar-benar berbicara dan saling memahami satu sama lain. Anak-anak dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":42,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-18","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-feature-insight"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30,"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18\/revisions\/30"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/42"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nurulkhusna.jurnal6a.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}